Selasa, 22 Oktober 2013

KONSEP DASARI. PENGERTIAN.Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wong’s,1995).
Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).
Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Gstroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.
II. PATOFISIOLOGI.
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut.
Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.
III. GEJALA KLINIS.
a. Diare.
b. Muntah.
c. Demam.
d. Nyeri Abdomen
e. Membran mukosa mulut dan bibir kering
f. Fontanel Cekung
g. Kehilangan berat badan
h. Tidak nafsu makan
i. Lemah
IV. KOMPLIKASI.
a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
Dari komplikasi Gastroentritis,tingkat dehidrasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Dehidrasi ringan
Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.
b. Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam.
c. Dehidrasi Berat
Kehilangan cairan 8 - 10 % dari bedrat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.
V. PENATALAKSANAAN MEDIS.
a. Pemberian cairan.
b. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
1. Memberikan asi.
2. Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.
c. Obat-obatan.
Keterangan :
a. Pemberian cairan,pada klien Diare dengasn memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.
1. cairan per oral.
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang,cairan diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na,Hco,Kal dan Glukosa,untuk Diare akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan,atau sedang kadar natrium 50-60 Meq/I dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas adalah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut.
2. Cairan parentral.
Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau ringannya dehidrasi,yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
2.1. Dehidrasi ringan.
2.1.1. 1 jam pertama 25 – 50 ml / Kg BB / hari
2.1.2. Kemudian 125 ml / Kg BB / oral
2.2. Dehidrasi sedang.
2.2.1. 1 jam pertama 50 – 100 ml / Kg BB / oral
2.2.2. kemudian 125 ml / kg BB / hari.
2.3. Dehidrasi berat.
2.3.1. Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg
· 1 jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml = 15 tetes atau 13 tetes / kg BB / menit.
· 7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).
· 16 jam berikutnya 125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
2.3.2. Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10 – 15 kg.
§ 1 jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 15 tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).
§ 7 jam kemudian 127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
2.3.3. Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg.
§ 1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).
§ 16 jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.
2.4. Diatetik ( pemberian makanan ).
Terafi diatetik adalah pemberian makan dan minum khusus kepada penderita dengan tujuan meringankan,menyembuhkan serta menjaga kesehatan penderita.
Hal – hal yang perlu diperhatikan :
2.4.1. Memberikan Asi.
2.4.2. Memberikan bahan makanan yang mengandung cukup kalori,protein,mineral dan vitamin,makanan harus bersih.
2.5. Obat-obatan.
2.5.1. Obat anti sekresi.
2.5.2. Obat anti spasmolitik.
2.5.3. Obat antibiotik.
VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium.
1.1. Pemeriksaan tinja.
1.2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup,bila memungkinkan.
1.3. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal.
2. pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik.
VII. TUMBUH KEMBANG ANAK.
Berdasarkan pengertian yang didapat,penulis menguraikan tentang pengertian dari pertumbuhan adalah berkaitan dengan masa pertumbuhan dalam besar, jumlah, ukuran atau dengan dimensi tentang sel organ individu, sedangkan perkembangan adalah menitik beratkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ individu termasuk perubahan aspek dan emosional.
Anak adalah merupakan makhluk yang unik dan utuh, bukan merupakan orang dewasa kecil, atau kekayaan orang tua yang nilainya dapat dihitung secara ekonomi.
Tujuan keperawatan anak adalah meningkatkan maturasi yang sehat bagi anak, baik secara fisik, intelektual dan emosional secara sosial dan konteks keluarga dan masyarakat.
Tumbuh kembang pada bayi usia 6 bulan.
a. Motorik halus.
1. Mulai belajar meraih benda-benda yang ada didalam jangkauan ataupun diluar.
2. Menangkap objek atau benda-benda dan menjatuhkannya
3. Memasukkan benda kedalam mulutnya.
4. Memegang kaki dan mendorong ke arah mulutnya.
5. Mencengkram dengan seluruh telapak tangan.
b. Motorik kasar.
1. Mengangkat kepala dan dada sambil bertopang tangan.
2. Dapat tengkurap dan berbalik sendiri.
3. Dapat merangkak mendekati benda atau seseorang.
c. Kognitif.
1. Berusaha memperluas lapangan.
2. Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.
3. Mulai mencari benda-benda yang hilang.
d. Bahasa.
Mengeluarkan suara ma, pa, ba walaupun kita berasumsi ia sudah dapat memanggil kita, tetapi sebenarnya ia sama sekali belum mengerti.
VIII. DAMPAK HOSPITALISASI TERHADAP ANAK.
Separation ansiety
a. Tergantung pada orang tua
b. Stress bila berpisah dengan orang yang berarti
c. Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, menarik diri, sedih, kesepian dan apatis
d. Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan denga.n orang lain dan menyukai lingkungan
B. ASUHAN KEPERTAWATAN SECARA TEORITIS
9. PENGKAJIAN.
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data,analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi,observasi,psikal assessment. Kaji data menurut Cyndi Smith Greenberg,1992 adalah :
1. Identitas klien.
2. Riwayat keperawatan.
2.1.Awala serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.
2.2.Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung,tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
3. Riwayat kesehatan masa lalu.
Riwayat penyakit yang diderita,riwayat pemberian imunisasi.
4. Riwayat psikososial keluarga.
Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.
5. Kebutuhan dasar.
5.1.Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,BAK sedikit atau jarang.
5.2.Pola nutrisi : diawali dengan mual,muntah,anopreksia,menyebabkan penurunan berat badan pasien.
5.3.Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
5.4.Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
5.5.Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.
6. Pemerikasaan fisik.
6.1. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,kesadran composmentis sampai koma,suhu tubuh tinggi,nadi cepat dan lemah,pernapasan agak cepat.
6.2. Pemeriksaan sistematik :
6.2.1. Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemerahan.
6.2.2. Perkusi : adanya distensi abdomen.
6.2.3. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
6.2.4. Auskultasi : terdengarnya bising usus.
6.3. Pemeriksaan tinglkat tumbuh kembang.
Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.
6.4. Pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan tinja,darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.
II. DIAGNOSA KEPERWATAN.
1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.
6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.
III.INTERVENSI.
Diagnosa 1.
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
Tujuan .
Devisit cairan dan elektrolit teratasi
Kriteria hasil
Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang
Intervensi
Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur infut dan output cairan (balanc ccairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.
Diagnosa 2.
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.
Tujuan
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil
Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.
Intervensi
Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
Diagnosa 3.
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.
Tujuan
Gangguan integritas kulit teratasi
Kriteria hasil
Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada
Intervensi
Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.
Diagnosa 4.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
Tujuan
Nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil
Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang
Intervensi
Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdoment. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.
Diagnosa 5.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.
Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil
Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.
Intervensi
Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Diagnosa 6.
Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.
Tujuan
Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji factor pencetus cemas. Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga unrtuk selalu mendampingi klien.
IV. EVALUASI.
1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhantubuh.
3. Integritas kulit kembali noprmal.
4. Rasa nyaman terpenuhi.
5. Pengetahuan kelurga meningkat.
6. Cemas pada klien teratasi.

Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).

Posted on 22.16 by Unknown

No comments

HIRSCHPRUNG/MEGAKOLON
Definisi
Hirschprung atau Megakolon adalah penyakit tidak adanya sel-sel ganglion dalam rektum atau bagian rektosigmoid colon. Akibat ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan (Betz, Cecily & Sowden, 2000).
Penyakit Hirschprung atau Megakolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan passase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan berat lahir kurang dari 3 kg dan lebih banyak laki-laki dari pada perempuan (Arief Mansjoer, 2000).
 
Etiologi
Faktor genetik dan lingkungan sering terjadi. Megakolon pada anak dengan Down Syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi, tidak adanya sel-sel ganglion dalam rektum atau bagian rektosigmoid kolon, ketidakmampuan sfingter rektum berelaksasi.
 
Pemeriksaan Penunjang
a)        Pemeriksaan colok anus
Pada pemeriksaan ini jari akan merasakan jepitan dan pada waktu jari dilepaskan tinja akan menyemprot. Pemeriksaan ini untuk mengetahui juga bau dari tinja karena kotoran yang yang menumpuk dan menyumbat pada usus di bagian bawah terlalu lama akan terjadi pembusukan.
b)        Radiologi (barium enema/foto roentgen)
Yaitu dengan memasukkan suatu cairan zat radioaktif melaui anus, sehingga nantinya dapat terlihat jelas saat difoto roentgen, sampai sejauh manakah usus besar yang terjadi pembesaran.
c)        Biopsi
Biopsi rektum untuk melihat ganglion pleksus submukosa meisner, apakah terdapat ganglion atau tidak. Pada penyakit hirschprung ganglion ini tidak ditemukan.
d)       Laboratorium darah
Tidak ditemukan adanya sesuatu yang khas kecuali jika terjadi komplikasi, misal: enterokolitis atau sepsis 
 
Penatalaksanaan Medis
1.        Medis
Penatalaksanaan operasi adalah untuk memperbaiki portion aganglionik di susu besar untuk membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan motilitas usus besar sehingga normal dan juga fungsi spinkter ani internal. Ada dua tahapan dalam penatalaksanaan media yaitu:
·      Temporari ostomy dibuat proksimal terhadap segmen aganglionik untuk melepaskan obstruksi dan secara normal melemah dan terdilatasinya usus besar untuk mengembalikan ukuran normalnya.
·      Pembedahan koreksi diselesaikan atau dilakukan lagi biasanya saat berat anak mencapai sekitar 9 kg (20 pounds) atau sekitar 3 bulan setelah operasi pertama (Betz Cecily & Swoden, 2002)
2.        Keperawatan
Perawatan tergantung pada umur anak dan tipe penatalaksanaannya. Bila anak telah terdiagnosa selama periode neonatal, perhatian utama antara lain:
·      Membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital pada anak secara dini
·      Membantu perkembangan ikatan antara orang tua dan anak
·      Mempersiapkan orang tua akan adanya intervensi medis (pembedahan)
·      Mendampingi orang tua pada perawatan colostomy setelah rencana pulang (FKUI,2000)
Pada perawatan preoperasi harus diperhatikan juga kondisi klinis anak. Anak dengan malnutrisi tidak dapat bertahan dalam pembedahan sampai status fisiknya meningkat. Hal ini sering kali melibatkan pengobatan simptomatik seperti enema. Diperlukan juga adanya diet rendah serat, tinggi kalori dan tinggi protein serta dapat digunakan nutrisi parenteral total (NPT)



Haryono,Rudi.2012.Keperawatan Medikal Bedah Kelainan Bawaan Sistem Pencernaan. Yogyakarta:Goysen Publishing

Posted on 22.12 by Unknown

No comments

DHF

BAB IPENDAHULUANA.      Latar BelakangDengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk dan ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam (Brooker, 2001).Demam dengue/dengue fever adalah penyakit yang terutama pada anak, remaja, atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis demam, nyeri otot, atau sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam (rash) dan limfadenophati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan bola mata, rasa menyecap yang terganggu, trombositopenia ringan, dan bintik-bintik perdarahan (ptekie) spontan (Noer, dkk, 1999).Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Suriadi & Yuliani, 2001Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti Bidan dan Pak Mantri ;-) seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tipes (Typhoid). Penyakit demam berdarah dengue atau yang disingkat sebagai DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina lewat air liur gigitan saat menghisap darah manusia.Selama nyamuk aedes aegypti tidak terkontaminasi virus dengue maka gigitan nyamuk dbd tersebut tidak berbahaya. Jika nyamuk tersebut menghisap darah penderita dbd maka nyamuk menjadi berbahaya karena bisa menularkan virus dengue yang mematikan. Untuk itu perlu pengendalian nyamuk jenis aedes aegypti agar virus dengue tidak menular dari orang yang satu ke orang yang lainB.       Tujuan PenulisanMahasiswa mampu menjelaskan DHF meliputi:1.    Definisi dan Klasifikasi2.    Etiologi3.    Patofiosiologi4.    Manifestasi klinis5.    Komplikasi6.    Pemeriksaan Penunjang7.    Penatalaksanaan Medis8.    Pencegahan9.    Penatalaksanaan KeperawatanC.      Sistematika PenulisanBAB I PENDAHULUAN berisi Latar Belakang, Tujuan, dan Sistematika PenulisanBAB II ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KLIEN DHF berisi Definisi dan Klasifikasi, Etiologi, Patofiosiologi, Manifestasi klinis, Komplikasi, Pemeriksaan Penunjang, Penatalaksanaan Medis, Pencegahan, Penatalaksanaan KeperawatanBAB III PENUTUP berisi Kesimpulan                                  BAB IIASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KLIEN DHF1.         DefinisiDemam Dengue adalah demam virus akut yang disertai sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih, dan ruam-ruam. Demam berdarah dengue atau dengue hemorragic fever (DHF) adalah demam dengue yang disertai pembesaran hatindan manifestasi perdarahan. Pada keadaan yang parah, bisa terjadi kegagalan sirkulasi dan pasien jatuh dalam syok hipovolemik akibat kebocoran plasma. Keadaan ini disebut shock syndrome (DSS).Demam dengue adalah penyakit virus dengan demam akut dengan ciri khas muncul tiba-tiba, demam biasanya berlangsung selama 3 - 5 hari (jarang > 7 hari dan kadang-kadang bifasik), disertai dengan sakit kepala berat, mialgia, artralgia,sakit retro orbital, tidak nafsu makan, ganguan gastrointestinal dan timbul ruam. Infeksi dengue disertai peningkatan permeabilitas vaskuler, dengan manifestasi perdarahan di sertai dengan kerusakan organ-organ tertentu. Penyembuhan, dapat disertai dengan rasa lelah dan depresi yang berkepanjangan. Limfa denopati dan lekopeni pada penderita demam dengue dengan difusitosis relative sering terjadi : trombositopeni dan meningkatnya transaminase lebih jarang terjadi.penyakit ini bisa muncul sebagai KLB yang eksplosif namun jarang terjadi kematian kecuali terjadiperdarahan pada DBD.Demam berdarah dengue adalah penyakit virus yang tersebar luas diseluruh dunia terutama di daerah tropis. Penderitanya terutama adalah anak-anak berusia dibawah 15 tahun, tetapi sekarang banyak juga orang dewasa terserang penyakit virus ini. Sumber penularan utama adalah manusia dan primata, sedang penularannya adalah nyamuk aedes aegypti.Selama nyamuk aedes aegypti tidak terkontaminasi virus dengue maka gigitan nyamuk dbd tersebut tidak berbahaya. Jika nyamuk tersebut menghisap darah penderita dbd maka nyamuk menjadi berbahaya karena bisa menularkan virus dengue yang mematikan. Untuk itu perlu pengendalian nyamuk jenis aedes aegypti agar virus dengue tidak menular dari orang yang satu ke orang yang lain2.         EtiologiPenyakit Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dalam group arboviruss (virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk arthropod). Virus dengue dibawa oleh gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopicus sebagai vektor ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut.Virus penyebab demam dengue adalah virus dengue genus flavirius yang termasuk Arbovirus (Arthopod Borne Virus) grup B. Virion virus mempunyai ukuran 40 nm. Secara serologis terdapat 4 tipe virus dengue, yaitu dengue tipe 1, tipe 2, tipe 3 dan tipe 4. Virus dapat berkembang biak pada berbagai macam kultur jaringan, misalnya sel mamalia BHK (Baby Hamster Kidney Cell) dan sel arthropoda, misalnya Aedes albopictus cell.Cara penularan:Ditularkan melalui gigitan nyamuk yang infektif, terutama aedes aegypti. Ini adalah spesies nyamuk yang mengigit pada  siang hari dengan peningkatan aktifitas mengigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari tengelam Aedes aegypti dan aedes albopictus ditemukan di daerah perkotaan.Aides ablopiktussangat banyak ditemukan di asia, tidak begitu antrepofilik di bandingkan dengan aides aegypti. Masa inkubasi demam dengue pada manusia berlangsung sekitar 4 – 5 hari.Masa penularan:Tidak ditularkan langsung dari orang keorang,penderita menjadi infektif bagi nyamuk padasaat virenia yaitu: sejak beberapa saat, masa demam berakhir, bisanya berlangsung selama tiga sampai lima hari. Nyamuk menjadi infektif 8 - 15hari sesudah menghisap darah, penderita virenia dan tetap infektif selama hidupnya.Klasifikasi:·           Derajat I: demam diikuti gejala tidak spesifik. Satu-satunya manifestasi perdarahan adalah tes tourniquet yang positif atau mudah memar·           Derajat II: gejala yang ada pada tingkat 1 ditambah dengan perdarahan spontan. Perdarahan bisa terjadi di kulit atau tempat lain·           Derajat III: kegagalan sirkulasi ditandai oleh denyut nadi yang cepat dan lemah, hipotensi, suhu tubuh yang rendah, kulit lembab dan penderita gelisah·           Derajat IV: syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diperiksa fase kritis pada penyakit ini terjadi pada akhir masa demam3.         Manifestasi KlinisKriteria klinis:·           Suhu badan yang tiba-tiba menggigil·           Demam yang berlangsung hanya beberapa hari·           Kurva demam yang menyerupai pelana kuda·           Nyeri tekan terutama di otot-otot dan persendian·           Adanya ruam-ruam pada kulit·           Hepatomegali, biasanya di ikuti syok·           Leukopenia·           Kadang mual dan muntah·           Sakit kepalabatuk dan pilekKriteria klinis DHF menurut WHO:·           Demam akut, yang tetap tinggi selama 2 – 7 hari, kemudian turun secara lisis. Demam disertai gejala tidak spesifik seperti anoreksia, nyeri pada punggung, malaise, nyeri pada tulang, persendian, dan kepala·           Manifestasi perdarahan seperti uji tourniket positif, petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan melena·           Pembesaran hati dan nyeri tekan pada ikterus·           Dengan atau tanpa renjatan. Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis yang buruk
·           Kenaikan nilai hematokrit atau hemokonsentrasi, yaitu 20 %
1.         Pemeriksaan Diagnostik
·           Pemeriksaan darah laboratorium
Ø  LPB positif
Ø  Kadar trombosit darah menurun (trombositopenia)
Ø  Hematokrit meningkat lebih dari 20%, merupakan indikator akan timbulnya rejatan
Ø  Hemoglobin meningkat lebih dari 20%
Ø  Leukosit menurun (lekopenia) pada hari kedua atau ketiga
Ø   Masa perdarahan memanjang
Ø  Protein rendah (hipoproteinemia)
Ø  Natrium rendah (hiponatremia)
Ø  SGOT/SGPT bisa meningkat
Ø  Astrup : Asidosis metabolic
·           Urine :
Kadar albumin urine positif (albuminuria)
·           Foto thorax
     Bisa ditemukan pleural effusion
·           Uji Serologi
a.    Uji serologi memakai serum ganda yaitu serum diambil pada masa akut dan konvalesen, yaitu uji pengikatan komplemen (PK), uji netralisasi (NT), dan uji dengue blot. Pada uji ini dicari kenaikan antibodi antidengue sebanyak minimal empat.
b.    Uji serologi memakai serum tungga, yaitu uji dengue blot yang mengukur antibodi antidengue tanpa memandang kelas antibodinya, uji IgM antidengue yang mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas IgM. Pada uji ini yang dicari adalah tidaknya atau titer tertentu antibodi antidengue.
·           Isolasi virus, yang diperiksa adalah darah pasien dan jaringan
2.         Komplikasi
  • Perdarahan luas
  • Syok (rejatan)
  • Pleural Effusion
  • Penurunan kesadaran
3.         Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :
  1. Tirah baring atau istirahat baring
  1. Diet makan lunak
  1. Minum banyak (2 – 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF
  1. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering digunakan
  1. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam
  1. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari
  1.  Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen
  1. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
  1. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder
  1. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk
  1. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam
  1. Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20 – 30 ml/kg BB
  1. Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan 12 – 48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah teratasi nadi sudah teraba jelas, amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 20 mmHg, kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam
  1. Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan penurunan Hb yang mencolok.
Pada pasien renjatan : AntibiotikaKortikosteroid dan  Antikoagulasi
4.        Pencegahan
Pengembangan vaksin untuk dengue sangat sulit karena keempat jenis serotip virus bisa mengakibatkan penyakit. Perlindungan terhadap satu atau dua jenis serotip ternyata meningkatkan risiko terjadinya penyakit yang serius. Saat ini sedang dicoba dikembangkan vaksin terhadap keempat serotip sekaligus, sampai saat ini satu-satunya usaha pencegahan atau pengendalian dengue dan dhf adalah dengan memerangi nyamuk yangmengakibatkan penularan.
Aegypti berkembang biak terutama di tempat-tempat buatan manusia, seperti wadah plastik, ban mobil bekas dan tempat-tempat lain yang menampung air hujan. Nyamuk ini menggigit pada siang hari, beristirahat di dalam rumah dan meletakan telurnya pada tempat-tempat air bersih tergenang.
Pencegahan dilakukan dengan langkah 3m:
·      Menguras bak air
·      Menutup tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat berkembang biak nyamuk
·      Mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air
Di tempat penampungan air seperti bak mandi diberikan insektisida yang membunuh larva nyamuk seperti abate. Hal ini bisa mencegah perkembangbiakan nyamuk selama beberapa minggu, tapi pemberiannya harus diulang setiap beberapa waktu tertentu.
Ditempat yang sudah terjangkit dhf dilakukan penyemprotan insektisida secara fogging. Tapi efeknya hanya bersifata sesaat dan sangat tergantung pada jenis insektisida yang dipakai. Disamping itu partikel obat ini tidak dapat masuk ke dalam rumah tempat ditemukannya nyamuk dewasa. Untuk perlindungan yang lebih intensif, orang-orang yang tidur di siang hari sebaiknya menggunakan kelambu, memasang kasa nyamuk di pintu dan jendela, menggunakan semprotan nyamuk didalam rumah dan obat-obat nyamuk yang dioleskan. 
5.         Penatalaksanaan Keperawatan
Pengkajian
a)      Aktivitas/istirahat
Malaise.
b)      Sirkulasi
Tekanan darah di bawah normal, denyut perifer melemah, takikardi, susah teraba, kulit hangat, kering, pucat, kemerahan/ bintik merah, perdarahan bawah kulit
c)      Eliminasi
Diare atau konstipasi
d)     Makanan/ cairan
Anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan, punurunan haluaran urine, oligouria, anuria
e)      Neurosensori
Sakit kepala, pusing, pingsan, ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium.
f)       Nyeri/ Ketidaknyamanan
Kejang abdominal, lokalisasi area sakit
g)      Pernapasan
Takipneu dengan penurunan kedalaman pernapasan, suhu meningkat, menggigil
h)      Penyuluhan/ pembelajaran
Masalah kesehatan, penggunaan obat-obatan atau tindakan
i)        Identitas
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa ( Effendy, 1995 )
j)        Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
k)      Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh,sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
l)        Riwayat penyakit terdahulu
Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.
m)    Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.
n)      Riwayat Kesehatan Lingkungan
Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan.
Analisa Data
Data Subjektif (DS)
Data Objektif (DO)
Pasien mengeluh:
·         Mimisan terus menerus
·         BAB warna hitam
Riwayat kesehatan dahulu :
·         Sudah 2 kali masuk rumah sakit
·         di diagnosa suspect DHF
Data tambahan :
·         Lelah
·         Lemas
·         Lesu
·         Mual/muntah
·         Diare
·         Mual
·         Demam
·         Tidak nafsu makan
·         Anoreksia
·         Membran mukosa kering
Pasien tampak :
·         Mimisan terus menerus
·         BAB warna hitam
·         Trombosit ↓: 130.000 ( normal trombosit : 150.000 -450.000 cmm)
·         Hemoglobin ↓: 8 ( normal Hb : 11 – 16 gr/dl )
·         Hematokrit ↓: 29 (normal Hct : 31 -45 % )
·         Suhu 39 0C
·         Terdapat pembesaran limpa dan hati
Data tambahan :
·         Berat badan menurun
·         Penurunan lipatan kulit trisep
·         Membrane mukosa kering
·         Suhu = 39ºC
·         kalium ↓ ( normal K = 3,6-5,8 mEq/L)
·         natrium menurun ↓ ( normal Na = 135-145 mEq/L)
·         HCO3 ↓ (normal  HCO3 = 22-26 mEq/L)
·         Bintik-bintik merah pada kulit (terutama di daerah kaki)
·         Memar atau daerah kebiruan pada kulit atau membrane mukosa
·         Perdarahan pada gusi
·         Platet ↓
Diagnosa Keperawatan
No
Diagnosa keperawatan
Tanggal
Ditemukan
Teratasi
1
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan virus dengue
28 November 2012
1 Desember 20012
2
Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat
28 November 2012
1 Desember 20012
3
Risiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
28 November 2012
1 Desember 20012
4
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia
28 November 2012
1 Desember 20012
Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.                
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan virus dengue
Setelah dilakukan perawatan 3x24jam diharapkan pasien suhu tubuh normal dengan kriteria hasil:
1. Suhu normal 36,5oC – 37,50C
1. Beri kompres air kran
2. Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi)
3. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat
4. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.
e.       
Kolaborasi
      Pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program.
1.   Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi
2.   Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi
3.   Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh
4.   Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
Kolaborasi:
Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien
2.       
Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat
Setelah dilakukan perawatan 3x24jam diharapkan pasien tidak terjadi divisit volume cairan dengan kriteria hasil:
1. Intake dan output seimbang
2. TTV normal
3. Tidak ada tanda presyok
4. Akral hangat
5. Capilary refil <3detik
1.   Observasi adanya tanda- tanda syok
2.    Anjurkan klien untuk banyak minum.
3.   Kaji tanda dan gejala dehidrasi /hipovolemik (riwayat muntah, diare, kehausan, turgor jelek
4.   Kaji masukan dan haluaran cairan
Kolaborasi:
1.    Pemberian cairan intra vena sesuai indikasi.
1.Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok yang dialami klien
2.     Asupan cairan sangat diperluakan untuk menambah volume cairan tubuh
3.     Untuk mengetahui penyebab defisit volume cairan
4.     Untuk mengetahui keseimbangan cairan
Kolaborasi:
1.     Pemberian cairan intra vena sangat penting bagi klien yang mengalami defisit volume cairan dengan keadaan umum yang buruk untuk rehidrasi.
3.             
Risiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengantrombositopenia
Setelah dilakukan perawatan selama 3x24jam diharapkan pasien tidak terjadi perdarahan
Kriteria hasil : 1. TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit
2. Pulsasi kuat
3. Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut
4. Trombosit meningkat
1.  Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis
2.      Beri penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada klien.
3.   Anjurkan klien untuk banyak istirahat.
4.  Beri penjelasan pada klien/keluarga untuk segera melaporkan tanda-tanda perdarahan (hematemesis,melena, epistaksis).
5.  Antisipasi terjadinya perdarahan ( sikat gigi lunak, tindakan incvasif dengan hati-hati).
1.  penurunan jumlah trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan perdarahan.
2.  Agar klien/keluarga mengetahui hal hal yang mungkin terjadi pada klien dan dapat membantu mengantisipasi terjadinya perdarahan
3.  Aktivitas klien yang tidak terkontrol dapat menyebab-kan terjadinya perdarahan
4.  Keterlibatan keluarga akan sangat membantu klien mendapatkan penanganan sedini mungkin
5.  Klien dengan trombositopenia rentan terhadap cedera/perdarahan
6.     
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia
Setelah dilakukan perawatan 3x24jam diharapkan pasien tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria hasil:
1.      Nafsu makan meningkat
2.      Tidak mual muntah
3.      Asupan nutrisi terpenuhi
4.      BB seimbang
5.      Makan habis 1porsi
1.Kaji keluhan mual, muntah, dan sakit menelan yang dialami klien
2. Kaji cara/pola menghidangkan makanan klien
3. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti: bubur dan dihidangkan saat masih hangat
4. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering
5.      Jelaskan manfaat nutrisi bgi klien terutama saat sakit
6. Catat jumlah porsi yang dihabiskan klien.
1.   Untuk menetapkan cara mengatasi-nya
2.   Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan klien
3.   Membantu mengurangi kelelahan klien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan
4.   Untuk menghindari mual dan muntah serta rasa jenuh karena makanan dalam porsi banyak
5.   Untuk meningkat-kan pengetahan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat
6.   Mengetahui pemasukan/pemenuhan nutrisi klien
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Demam berdarah dengue adalah penyakit virus yang tersebar luas diseluruh dunia terutama di daerah tropis. Penderitanya terutama adalah anak-anak berusia dibawah 15 tahun, tetapi sekarang banyak juga orang dewasa terserang penyakit virus ini. Sumber penularan utama adalah manusia dan primata, sedang penularannya adalah nyamuk aedes aegypti.
Selama nyamuk aedes aegypti tidak terkontaminasi virus dengue maka gigitan nyamuk dbd tersebut tidak berbahaya. Jika nyamuk tersebut menghisap darah penderita dbd maka nyamuk menjadi berbahaya karena bisa menularkan virus dengue yang mematikan. Untuk itu perlu pengendalian nyamuk jenis aedes aegypti agar virus dengue tidak menular dari orang yang satu ke orang yang lain

Posted on 22.10 by Unknown

No comments